Asrika

(seperti) Aku bukan siapa-siapa (lagi)

6:05 PM Asrika Vitawati 0 Comments Category :

Sebuah cerita di tahun 2000-an. Ketika aku masih bisa membeli permen dengan harga 100 rupiah. Jaman dimana aku menggendong tas bertuliskan "Millenium 2000", aku ingat saat itu tasku berwarna hitam dengan gambar Mickey Mouse yang berukuran kecil. Aku masih bermain dengan tetangga sebelahku, teman akrabku semenjak bayi. Saat itu aku selalu bersama kemana-mana. Cerita apapun, suka, duka, semua selalu kami ceritakan. Enak rasanya tidak ada sekat yang membuat jarak pertemanan diantara kita waktu itu. Kami begitu terbuka setiap ada masalah. Aku tak pernah menyembunyikan masalahku waktu itu, yang mana aku tahu masalahku adalah aku tidak punya tempat pinsil yang kebanyakan teman-teman lain punya. Ah masa kecil, memang polos. Hal kecil saja dijadikan sebuah masalah. Masa itu juga aku mengenal saling suka, saling naksir. Walaupun aku tidak paham apa itu cinta. Tapi aku selalu curhatkan hal ini kepada temanku itu. Perempuan yang entah, seperti sejalan denganku.


Sekarang sudah 2014, sebentar lagi aku meninggalkan tahun ini. Desember jalan ngebut nampaknya. Bukan apa-apa, aku hampir tidak merasakan kehadirannya. Sepertinya dia lupa sesuatu, dia lupa sekarang aku bukan siapa-siapa lagi (nampaknya). Padahal di awal tahun, dia bersorak gembira, begitu exited, interesting denganku yang mempunyai beberapa revolusi yang bahkan aku lupa apa saja itu. Desember sperti akan pergi, walaupun tidak meninggalkan aku. Toh aku akan bertemu dengannya lagi di tahun 2015 (Apabila masih diberi umur). Dulu mungkin aku bisa menceritakan setiap masalahku. Sekarang 2014, dan sudah berubah. Ahhh aku sedikit kesal, seperti perlahan berubah. Aku tidak bisa lagi begitu akrab dengan temanku itu. Selain karena dia punya kesibukan sendiri, tetapi juga karena kami udah ga sejalan lagi (nampaknya). Hal yang paling sedih memang tentang perubahan. Aku tidak bisa lagi seterbuka dulu menceritakan ini itu, padahal sebenarnya bisa saja dan aku mau-mau saja. Tapi, mungkin orang lain tidak bisa menerima ini. Sebagian orang seperti kehabisan kata-kata untuk bisa membuatku tenang. Padahal ada banyak batin yang ingin dikeluarkan. Tapi seperti ada sekat dan jarak yang seolah mereka berkata "Jangan beritahu aku tentang masalahmu!". Sudah lama aku tidak meneteskan air mata. Ah aku berterimakasih kepada Tuhan karena akhirnya mataku bisa kembali basah. Seperti ini sepanjang bulan desember, hujan.  Banyak awan menangis, sama seperti aku sesekali saja. Supaya aku bisa melepaskan si batin itu. Melow sekali rasanya aku hari ini. Lagi-lagi seolah aku ini bukan siapa-siapa. Padahal aku juga tak tahu siapa aku ini buatnya? Maaf desember, aku seperti merasakan kau tidak memiliki aku dan itu membuat aku berpikir aku tidak memilikimu. Bukankah seharusnya ada kesalingan diantara kita? Aku butuh akhir tahun, kau butuh aku untuk mengisi akhir tahunmu. Seharusnya kita saling mengisi. 

Padahal september aku tau ceria, tapi kenapa tidak sampai desember? Musim hujan mungkin penyebabnya. Hahahaha. Siapa yang tau? Ingin aku bertanya berawalan "Kenapa?". Kenapa ya aku seperti bukan siapa-siapa lagi? Kenapa ya banyak yang berubah? Kenapa harus ada kesalingan? Kenapa begitu banyak beban? Tidak hanya itu, batin juga. Kenapa? Kenapa susah sekali di bulan desember ini untuk bersantai sekedar menikmati secangkir green tea latte panas? Kenapa dengan desember? Kenapa aku tidak melihat desember tersenyum? Kenapa desember begitu membosankan? Ah kamu kenapa desember? Ada apa dengan desember? Kita lihat desember yang baru di 2015 nanti. Yaaa let see.

RELATED POSTS

0 komentar