Asrika

NIGHT OF CHAOS

6:18 PM Asrika Vitawati 0 Comments Category :

Di pertengahan hari yang gelap itu hati berselimutkan kekacauan. Siapa yang ingin? Tak tau aku menjawab. Bahkan bunga-bunga itupun mulai menunjukan keengganannya untuk tumbuh, jangankan tumbuh, mekarnya pun semakin enggan. Warnanya yang semakin hari berubah, menunjukan bahwa dirinya kini mulai kehilangan nyawa. Seolah ia berkata "Aku sudah bosan dengan hidup." seperti ia ingin segera pergi. Walau sebenarnya aku tak ingin itu terjadi. Memang ia menikmati harinya saat-saat semua orang merasa bahwa dirinya adalah hal yang terindah, tercantik, dan simbol romantisme bagi semua kalangan. Memang ada yang menandakan ketidaksenangan atau kesedihan. Dari sekian banyak, semua enggan hidup. Aku sedih, dan aku tidak suka dengan perpisahan. Kamu tau apa yang tersisa? Hanya sebuah pita. Haruskah aku menguburnya? Agar nantinya ia bisa merasakan nikmatnya kematian? Sungguh ironi. Sebentar, aku mendengar sebuah alunan musik. Mogwai - Take Me Somewhere Nice, apa ini yang sebenarnya menajdi pesan terakhir? Lagi-lagi aku tak pernah tau. Ah kenapa malam itu sangat kacau?


Aku selalu kesulitan ketika terjilat romantisme bertuliskan "Cinta". Tak paham makna didalamnya. Begitu hebat bak menara di Paris sana. Sungguh jauh sekali bahtera yang harus dilalui. Ah ngomong apa aku ini. Hari ketika aku menulis ini aku melihat semesta tak berbicara. Dibalik diamnya, aku melihat rintikan gerimis yang seperti genre lagu melankolik. Seperti ia menghadapi banyak ranjau. Aku tau medannya semakin sulit. Aku lupa, aku baru saja memberi sebuah ranjau. Bodohnya aku! Sudah kuduga, malam semakin kacau. Aku pun menjadi enggan keluar. Malam kerap berulang, semoga tak lagi menjadi kelam. Gelap yang semakin berbayang akan menjadi siang. Sampai aku temukan kicauan burung dan mungkin suara ikan yang diam namun bersuara? Siapa tau. Tapi aku tak ingin memaksa. Apa bisa semua menjadi biasa? Salah memang salah dan tak akan menjadi benar sampai kau temukan sebuah kata keikhlasan. Sinar bulan saja sudah tak sudi melihatku lagi. "Bodoh!" katanya padaku. Sampai matahari bertanya-tanya dan sedikit malu-malu untuk menyapa aku yang sudah terlanjur menjadi pecundang. Semoga saja aku masih bisa menjemput pagi dengan nadi yang baru. Alam, kaulah sekarang yang bisa menolongku. Tolong aku di saat aku menelusuri jalanan yang semakin suram. Semoga engkau berbaik hati menunjukan jalan ka arah kebahagiaan.

RELATED POSTS

0 komentar