Asrika

Kantung Plastik Hitam yang Rese

10:42 AM Asrika Vitawati 0 Comments Category :

Siang hari, kurang lebih pukul 12.23, seorang anak berambut panjang dan sedikit ikal, berkulit sawo matang agak kusam, badannya kecil tapi tidak terlalu kecil, tubuhnya lebih tinggi 30 cm dari pada tinggi tubuhku ia berjalan dengan sendal yang kalau diajak lari akan putus sebelum berlari jauh, ia menuju ke arahku. Dengan wajah yang pucat seperti yang belum diberi makan, mukanya manis namun sedikit tidak terawat, bajunya sedikit compang camping tapi tidak terlihat seperti pengemis. Setelah ia berjalan pelan dan akhirnya berhenti sekitar dua meter di depanku. Sebenarnya apa tujuan dia yang tiba-tiba mengahampiriku? Aku sedikit menaruh curiga padanya, jangan-jangan dia mau minta bubur ayam yang sedang aku santap, atau mungkin dia mau minta pulsa untuk nelpon mamanya, apa bahkan dia akan memuji aku karena hari ini aku berdandan? Ah itu mustahil! Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah plastik hitam, cukup kecil, ukuran kantung plastik kecil. Bisa menampung gula pasir setengah kilo. Aku masih mengira-ngira tentang isi kantung plastik itu. Aku berpikir mungkin dia teroris yang belum ditangkap oleh polisi, dan isi plastik hitam itu adalah bom yang akan membunuh para pembeli bubur ayam suwir disini.

"Apa itu?", tanyaku.

Tapi dia hanya diam, tak sepatah katapun ia lontarkan. Aku dan dia hanya saling berpandangan tak saling bicara. Aku bingung, anatara takut dan penasaran dengan isi kantung plastik hitam itu. Anehnya kenapa cuma mengarah ke hadapanku, padahal disampingku ada beberapa orang yang sama-sama sedang menikmati butir-butir nasi yang matangnya karena terlalu banyak air.

"Isinya apa?", tanyaku, lagi.

Kali ini dia hanya tersenyum, sedikit lebar, hingga giginya yang agak kekuningan mungkin karena ia sering merokok terlihat olehku. Aku mengerutkan kening, penuh pertanyaan dan kebingungan. Ah aku cape dan sedikit agak kesal karena pertanyaan-pertanyaanku tak ada satupun yang dia jawab. Sampai akhirnya aku ambil dan aku buka isinya. Kaget sekaligus bertambah heran. Kantung plastik hitam itu ternyata berisi uang recehan yang cukup banyak. Ga ngerti maksud dan tujuan dia apa. Tapi akhirnya aku coba tanyakan lagi.

"Buat apa recehan sebanyak ini?"

Setelah satu menit, eh tidak, mungkin 1 menit lebih 4 detik, aku menunggu dia menjawab. Akhirnya anak tersebut mulai menyunggingkan bibirnya, seperti akan berkata-kata dengan panjang lebar. Tangan kecilnya yang agak dekil mencoba di gerak-gerakan perlahan ke atas dan kebawah seperi layaknya seorang konduktor yang siap memimpin sebuah lagu di panggung orkestra.

"Gini mba, siapa tau berminat nuker uang recehan, totalnya Rp. 300.000. Kalau saya bawa Rp. 300.000 recehan kan agak berat gitu, mba nya kan bisa dimasukin ke kantong, lahs aya ga punya kantong, ya itung-itung amal aja mba, siapa tahu bisa buat infaq atau beramal dengan sesama gitu mba. Dari pada nuker di bank, repot antrinya, kan mending sekarang nuker nya di saya, mumpung banyak nih. Abis ngamen semalem, mau kan mba? Mau ya mba? Bantu ya mba? Gimana mba? Bisa ya ?", panjang sepanjang jalan kereta api dia jelaskan.

Kemudian hening.

RELATED POSTS

0 komentar