Asrika

Kotak Perilaku

11:44 PM Asrika Vitawati 0 Comments Category :

Ketika seorang lelaki memiliki pemikiran dan hal yang aku tidak pernah ketahui. Namun ternyata, aku bisa membaca pikirannya itu. Pada suatu waktu aku duduk bersama lelaki itu. Dia tepat berada di sampingku. Sambil memainkan laptopnya, ia pun bercerita mengenai teman kami.

"Saya tau X seperti apa, saya pikir dia cocok apabila bekerja di bagian pertukangan." dia bercerita sambil tetap asik dengan laptonya. 

"Tapi, X ini memiliki sifat yang saya tidak suka, dia begitu keras kepala dan hanya mau menang sendiri, ga cuma itu, dia juga tipe orang yang mudah marah apabila kemauannya tidak dipenuhi atau apabila ide solusinya saya anggap kurang bagus."

"Hmmm begitu... " ucap saya sambil berpikir.

"Kamu tau, si Y itu kan memiliki sifat yang tidak bisa bekerja apabila tidak bersama teman akrabnya itu. Susah sekali memang memisahkan dua sejoli itu. Kebiasaan hidup dengan orang lain, suatu hari nanti saat dia hidup sendiri pasti kesusahan. Kamu tau kenapa mereka sering sekali mencemooh dia? Karena dia itu tidak memiliki pengalaman, kurang wawasan, kurang pendidikan, banyak sih kekurangan dia. Mungkin teman-temannya juga terpaksa berteman dengannya."

"Oiyaa, masalah si Z, hidupnya itu cuma senang-senang, diajak susah mungkin dia tidak akan bisa bertahan. Terlalu sering dimanjakan. Kehidupannya yang mewah membuat dia lupa dengan arti sebuah kehidupan."

Panjang lebar lelaki itu berbicara, yang arah pembicaraannya mulai tidak aku suka. Aku merasa tidak enak apabila aku pergi dan meninggalkan dia sendirian di tempat itu. Terpaksa aku mendengarkan ia bercerita. Dia masih berceloteh tentang teman kami.

"Ini lagi si W, dia mampu di bidang perhutanan, tapi ketika saya coba menyuruhnya dia melakukan sesuatu, dia tidak pernah melakukan secara benar. Selalu ada kekurangan. Tidak bisa apa dia sekali saja perfect? Cantik parasnya ga bikin saya jatuh cinta. Kebodohan otaknya sudah diselimuti oleh kecantikannya. Jangan sampai deh lelaki terbuai rayuannya. Saya juga tidak mau sampai terbuai. Buat apa cantik parasnya namun pikirannya kosong."

Dalam hati aku kesal, lelaki satu ini tak pernah berhenti membicarakan mereka secara satu persatu. Dia bedah perilaku mereka sampai mendetail. Aku cape mendengarnya. Ingin aku sudahi pembicaraan ini. Sampai akhirnya aku pergi untuk memesan secangkir kopi hitam dan secangkir green tea. Setelah beberapa menit, aku kembali dan duduk di samping lelaki itu. Aku teguk green tea panas yang asapnya masih mengepul. Ops, lidahku terasa sakit. Begitu panas rupanya. Kami terdiam beberapa detik. Sedangkan lelaki itu masih tetap asik dengan laptopnya. Aku lihat dia sedang membuat media sosial twitter dan facebook. Barangkali update status, pikirku. Aku tidak memulai pembicaraan. Sampai akhirnya dia kembali bercerita.

"Eh kamu tau kan si R, saya ga pernah habis pikir, dia selalu saja membuang waktunya dengan hal yang menurut saya itu ga penting. Hal-hal yang dia lakuin selalu buang-buang waktu dan tenaga. Ga cuma itu, dia juga pelit. Tidak pernah berbagi. Setiap kali dia punya makanan atau minuman, selalu dia konsumsi sendiri tanpa ada yang melihat."

Aku kesal semakin kesal. Tidak mau aku mendengarkan lelaki itu. Sampa akhirnya aku pergi dan mengatakan :

"Jangan pernah mengotak-ngotakan orang, kita semua memiliki perilaku dan sifat yang berbeda-beda, jangan berpikir cuma kamu yang sempurna, cobalah introspeksi diri, barangkali semua yang kamu ceritakan adalah sifat yang ada di dalam dirimu!"

RELATED POSTS

0 komentar