Asrika

Untuk Sabtu

9:40 PM Asrika Vitawati 0 Comments Category :

Lalu lintas sore itu ga begitu padet, mungkin karna Jumat. Tapi, apapun nama hari nya, tumben sih namanya. Asap knalpot ga bisa lagi terhindarkan. Kuat-kuat deh sama karbon dioksida. Untung sih hunian sedikit jauh dari kota. Walaupun di ejek, di olok, tapi tak mengapa, setidaknya aku lebih banyak merasakan oksigen segar. Ga cuma sayuran di pasar yang segar, paru-paru juga harus segar. Apalagi pikiran. Baru pikiran, hati juga harus ikutan segar. Ah aku jadi ingin makan apel yang keluar dari lemari es. Aku jadi ingat, lemari es nya sudah gelap. Tak bercahaya. Ah biarlah, selama masih bisa mendinginkan apa salahnya ? Jadi ingat tadi pagi, suhu ga bisa lagi ditebak. Main-main dengan udara. Kapok. Tapi sebagian dari mereka juga berkata sama. Aku tak salah kalau begitu. Lalu ada yang salah? Seharusnya hal ini sudah biasa. Ingat ketika aku masih mengenakan rok merah pendek. Aku yang lugu, saat embun membasahi sepatu yang melangkah menuju pertemuanku dengan buku dan ibu guru. Bertahun-tahun seperti itu. Biasa saja. Ga ada yang aneh. Setelah tinggi badanku bertambah, berat badanku memasuki awalan 4 dan menyisakan satu digit dibelakangnya, mereka seakan berubah juga. Aku meningkat, mereka menurun. Kau tau apa yang aku bicarakan ? Embun, ya. Tentang embun itu dan juga tentang suhu. Aku rindu kadang ketika aku menyiram badanku di waktu sebelum matahari menampakan diri. Lantas kemana mereka kini pergi ? 

Sudahlah. Biarkan saja, katanya hidup harus dijalani. Lalu akan menjadi seperti apa kalau begitu tempat kita ini ? Tempat mencari segala sesuatu yang seharusnya sih kita jaga. Duh susahnya. Terlalu banyak mengeluh. Ah Tuhan, maafkan aku. 

Aku menyambar kursi ruang tamu waktu itu. Aku buka kunci layar hp ku. Satu pesan aku baca. Aku tersenyum girang. Untuk pertama kalinya, eh tidak, untuk kedua kalinya. Ya keduanya kalinya. Isi pesan itu membuatku harus mempersiapkan untuk besok. Aku ditunggu di kantor tempat dimana aku pun tak tau lokasinya. Inikah yang dinamakan grogi ? Mungkin dan bisa jadi. Lagi-lagi aku bingung. Kamu tau kenapa? Masalah "Mereka" yang aku butuhkan. Tak ada. Ya tak ada seorangpun. Aku terima. Hanya berniatkan berani dan nekat. Aku hampir lupa mempersiapkannya. Ya satu kertas. Kertas yang entah terpakai atau tidak. Aku tak pernah tau. 

Malam semakin malam semakin gelap. Jelas. Tidak ada malam yang terang. Atau mungkin ada? Entahlah. Aku berjalan menuju ruang 2x3 m. Aku basuh sesuai urutan. Air suci untuk bertemu dengan-Mu. Aku menyembah-Mu. Memohon pertolongan dan kelancaran. Untuk Sabtu. Sabtu, sampai bertemu besok :)

RELATED POSTS

0 komentar